Bucin yang Membingungkan

By Guido Tamara
November 1, 2020

Setelah akhirnya bisa menyelesaikan membaca buku ini sampe tuntas yang terbilang cukup lama untuk menyelesaikannya, entah itu malas, ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, lupa naro bukunya yang tadinya ada niatan buat baca bentaran ujungnya enggak jadi dan hambatan lainnya.

Ini buku pertama saya baca dari karya Hernest Hemingway. Buku ini pertama saya baca 9 September dan baru kelar di 1 November. Terlepas dari hambatan yang sudah disebutkan ada masalah dari hal dari isi bukunya itu sendiri, sepertinya saya kurang cocok saja dengan  ceritanya yang terlalu banyak dialog, karakter yang cuman duduk-duduk, minum-minum sambil bergosip, dan menonton adu banteng. Disini saya mungkin agak tertarik dengan adu banteng atau yang disebut Fiesta, ini merupakan sebuah perayaan tradisioanal warga Spanyol. Apa sih Fiesta itu? untuk lebih lanjut baca sendiri atau mencari di internet.

 

Sinopsis

Jacob (Jake) Barnes, seorang wartawan yang terluka pada Perang Dunia 1, berasal dari Kansas dan sedang berada di Paris. Disana ie bertemu dengan Lady Brett Ashley, wanita yang dikenal suka bersenang-senang dan mempermainkan banyak pria, dan jatuh cinta dengannya. Brett pun membalas cinta Jake.

Buku The Sun Also Rises karya Hemingway.

Fiesta bercerita tentang persahabatan dan cinta. Dari awal hingga akhir alurnya berjalan pelan dan membosankan, memang agak dari pertengahan hingga akhir plotnya semakin menarik, ditutup dengan ending yang cukup bagus.

Penggambaran dari tiap masing-masing karakter membuat saya suka, agak kurang di segi bahasa. Cohn misalnya orang yang kompulsif dan tidak bisa menikmati hidupnya, seperti ingin lari darinya dan berusaha menemukan kebahagiaan dan cinta dari orang lain.

Brett, perempuan liar yang baik hati dan memesona, dia sebenarnya tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah salah namun dia tak kuasa menahan diri, dia terjebak dan tak bisa keluar. Apalagi norma yang berlaku hampir di setiap masyarkat di dunia tidak menempatkan wanita pada posisi bebas, perempuan yang bertualang dengan banyak pria dianggap melenceng, sedikit berbeda cerita dengan laki-laki.

Bill yang menyenangkan dan menghargai persahabatan yang tulus, serta Mike yang dengan sabar mencintai Brett yang liar walau pada akhirnya dia tak tahan lagi.

Dan terakhir Jake si tokoh utama, yang nanti saya jelaskan di akhir cerita.

Masuk ke cerita, 

Kisah ini dinarasikan oleh Jake, lengkapnya Jacob Barnes seorang veteran perang Amerika yang kemudian menjadi seorang Jurnalis. Jake seorang pecinta kebebasan dan keindahan dan sepertinya merasa nyaman bergaya hidup bohemian di Paris. Jake mencintai Brett Ashley, seorang wanita cantik yang juga pecinta kebebasan dan janda dari seorang bangsawan Inggris yang tewas dalam peperangan. Hubungan cinta mereka sangat aneh karena masing-masing punya beban masalah yang agak sulit dipersatukan. Jake mengalami beban psikologis akibat kehilangan kejantanannya sewaktu perang sedangkan Brett juga menderita karena ia sukar mengendalikan hasrat seksualnya. Beberapa orang pria hadir menghiasi perjalan cinta Jake dan Brett. 

Seorang teman Jake, yang juga seorang penulis dan mantan petinju berdarah Yahudi bernama Robert Cohn juga jatuh hati dengan Brett. Cohn sebenarnya sudah punya seseorang yang sangat mencintainya bernama Francis tetapi hubungan mereka kandas karena sifat posesif Francis dan ia sendiri telah tersihir oleh peona Brett. Hubungan Jake dan Brett tambah rumit dan mblunder karena Brett ternyata sudah bertunangan dengan Michael Campbel, seorang seorang veteran dari Skotlandia yang tengah bangkrut. Selain Jake, Brett, Cohn dan Mike ada juga Bill Gorton, teman jake yang berasal dari Amerika.

Suatu ketika kelima sahabat itu, Jake, Bill, Cohn, Brett dan Mike berwisata ke Spanyol untuk menikmati Fiesta, yaitu suatu sebuah perayaan tradisioanal warga Spanyol yang diselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam dengan menampilkan pertarungan antara matador dengan banteng sebagai tradisi khas mereka. Mereka menikmati pesta itu meski timbul konflik cinta antara Jake, Cohn dan Mike dengan Brett. 

Konflik asmara mereka bertambah parah ketika Pedro Romero, seorang Matador berusia sembilan belas tahun hadir ditengah mereka. Brett tidak kuasa membendung hasratnya terhadap Pedro dan ternyata Pedro-pun juga mencintai perempuan yang padahal terpaut jauh dari umurnya. Akhirnya pesta yang sangat meriah itupun hanya menyisakan perasaan hampa di hati kelima orang itu. Pesta dan kemelut cinta itu telah membuka hati dan pikiran mereka tentang makna hidup ini. Makna cinta sesungguhnya, perburuan kesenangan dan eksistensi mereka dalam hidup ini.

Dan pada akhir perjalanan panjang mereka, Jake dan Brett belajar memahami diri sendiri, level pertemanan dan kecemburuan yang berujung pada pemahaman bahwa cinta bisa berjalan tanpa harus memiliki. Jake Barnes, sang tokoh utama. Dia seorang yang tenang dan bijaksana, walau beberapa kali tak bisa menolelir perbuatan Cohn. Dia tampaknya menjadi bijaksana setelah masa lalu yang menyakitkan bersama Brett, cintanya pada Brett selalu tulus tanpa pamrih dan selalu ada untuk Brett. Dia belajar untuk menghargai dirinya dan menikmati hidupnya. Saya suka sekali bagian ketika lagi-lagi Brett memilih pergi dengan pria lain, pengalaman telah mengajarkan Jake untuk kuat sekalipun cinta dalam hidup pergi meninggalkan dia (lagi). Setelah perpisahan itu Jake tetap menjalani hidupnya sendiri dengan syukur dan bahagia.

Ending buku ini agak antiklimaks, menurut saya seperti kembali ke titik nol.  Buku ini akan lebih tepat dibaca oleh orang santai tanpa terburu-buru dan menikmatinya. Tapi saya akan mencoba membaca buku-buku karya Ernest Hemingway yang lainnya.

Kata-kata (quotes) yang  telah saya baca, 

Aku menyukainya dan jelas sekarang wanita itu telah mengekang hidupnya. (Bab 1 p.06)

Aku selalu memimpikannya. Kalo tidak, bisa-bisa aku sudah kelewat tua sebelum dapat melakukannya. (Bab 2 p.09)

Aku tidak dapat berhenti memikirkan hidupku yang berjalan dengan cepat, sementara itu aku tidak benar-benar menghayatinya. (Bab 2 p.10)

Aku sangat marah. Entah mengapa mereka selalu membuatku marah. Aku sadar mereka biasa dianggap sebagai orang-orang yang menyenangkan dan karenanya kita harus bersikap toleran. (Bab 3 p.21)

Sepasang mata itu seolah akan terus menatap meskipun mata setiap orang di dunia telah lelah menatap. Dia seolah-olah tidak mampu menatap apa pun di bumi dengan cara lain kecuali dengan cara itu, bahwa dia sesungguhnya takut terhadap banyak hal. (Bab 4 p.28)

Kurasa aku tidak pernah menyadari masalah itu. Aku berusaha menikmati dan berusaha agar tidak menimbulkan masalah untuk orang lain. (Bab 4 p.34)

Menghadapi segala sesuatu pada siang hari sangatlah mudah, tetapi pada malam hari, semuanya menjadi lain. (Bab 4 p.38)

Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan keindahan. (Bab 5 p.42)

Jawab saja tanpa berfikir. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dapat melakukan apa pun keinginanmu? (Bab 6 p.48)

Kupikir siapa pun yang hidup dengan pedang, maka akan binasa oleh pedang juga. (Bab 6 p.55)

Penghinaan itu akan membuat orang merasa dunianya hancur, benar-benar hancur ebur di depan mata jika kita mengatakan hal-hal tertentu. (Bab 6 p.54)

Rebahan saja tenang-tenang. (Bab 7 p.61)

Apa kita tidak bisa hidup bersama? Tidak bisakah kita sekedar untuk hidup bersama? (Bab 7 p.61)

 

Cinta juga punya tempat dalam pandangan hidup, kamu tidak punya pandangan hidup, kamu sudah mati. (Bab 7 p.68)

Itulah yang harus kalian lakukan. Lakukan perjalanan saat masih muda. Ibu dan aku ingin jalan-jalan, tapi kami harus menunggu sekian lama. (Bab 9 p.93)

Malam itu aku terbangun satu kali dan mendengar deru angin. Nyaman sekali rasanya berhangat-hangat di tempat tidur. (Bab 11 p.123)

Nyaman. Kata-kata itu menyenangkan sekali. (Bab 11 p.131)

Mana kita tahu? Sebaiknya tidak ada pertanyaan. Kita tinggal di dunia ini tidak lama. Mari bergembira, beriman, dan bersyukur. (Bab 11 p.135)

Aku tidak ingat mimpi tentang apa tetapi itu bagus sekali. (Bab 11 p.139)

Bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. (Bab 13 p.163)

Aku gembira. Terlihat bahwa mereka semua adalah teman-teman yang sangat baik. (Bab 13 p.165)

Perempuan memang sahabat istimewa. Sangat dahsyat. Pertama-tama kamu harus jatuh cinta pada perempuan untuk dapat membangun persahabatan. (Bab 13 p.166)

Menikmati hidup berarti belajar mengetahui nilai uang kita dan kapan uang itu milik kita. (Bab 13 p.167)

Aku tidak peduli apa arti filosofi itu. Aku cuma mau menjalain filosofi itu. Mungkin jika tahu bagaimana cara menjalaninya, kita dapat mempelajari apa arti filosofi itu. (Bab 13 p.167)

Untuk kesempatan pertama atau kedua? (Bab 15 p.196)

Setiap orang punya tingkah buruk, tinggal menunggu kesempatan untuk muncul. (Bab 16 p.205)

Aku bukan orang yang rela dikalahkan. Aku bahkan tidak suka main-main. (Bab 16 p.218)

Kurasa sebaiknya aku tetap mabuk saja. Semua ini benar-benar lucu, tapi tidakbegitu menyenangkan. Tidak cukup menyenangkan bagiku. (Bab 17 p.232)

Aku sama sekali tidak khawatir tentang dia. Aku hanya merasa turut bahagia untuknya. (Bab 17 p.237)

Aku berusaha bangun pagi. (Bab 18 p.269)

Kamu barangkali terlalu baik baginya. (Bab 19 p.275)

Kita sebenarnya dapat bersenang-senang bersama. Senang kan kalau berpikir demikian? (Bab 19 p.282 ) 

 

0 Comments

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *